RuangTengah

Caithleen Gracia

Mei 28, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sepintas memang bukan seperti nama orang Indonesia. Namun Caithleen Gracia yang ini memang asli orang Indonesia.

“Caithleen itu artinya suci, Gracia itu anugrah”, suara Ayah Caithleen dari ujung telepon geggamku tiga hari yang lalu.

Nada suaranya rendah, tidak seperti nada seorang Ayah yang baru saja memiliki anak pertama. Nada suara itu lebih menyerupai suara seorang yang sedang menahan kepedihan luar biasa.

Aku terdiam.

“Kami sudah siap”, sambungnya, “Kami siap kalau Tuhan mau memintanya kembali”. Suaranya terdengar begitu tulus namun tegar.

Aku masih diam.

“Puji Tuhan, biar menjadi persembahan syukur yang suci bagi Tuhan”, katanya lagi.

Aku masih ingat bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kusayang. Akupun masih ingat betul perasaan pedih hampir kehilangan calon anakku, untung bagiku si janin masih bisa bertahan di rahim ibunya. Tapi kali ini, aku benar-benar terdiam, lemas.

Ayah Caithleen Gracia adalah kakak kandungku. Belum dua tahun, kami sama-sama berusaha saling menguatkan, ketika kedua orangtua kami berpulang. Beberapa bulan lalu, aku mendengar kabar gembira darinya, bahwa istrinya mengandung. “Semoga ini bisa jadi penghiburan baginya”, doaku dalam hati. Beberapa minggu lalu aku mendapat telepon bahwa kakak iparku masuk rumah sakit karena dalam rahimnya terdapat mioma, sejenis jaringan daging yang tumbuh di rahim dan menjadi parasit bagi janin. Tiga hari yang lalu, kami mendapat kabar bahwa janinnya sudah dipanggil pulang kepada Bapa di Surga.

“Namanya bagus sekali, cantik”, kataku pada kakak. Sesuai dengan doaku, anak perempuan.

“Ya… tapi Tuhan mau dia pulang”, jawabnya.

“Ya”, aku terdiam sebentar,”Ya, aku ngerti”, kuucap dengan pertanyaan dalam hatiku.

“Kami sudah siap. Kami siap kalau Tuhan mau memintanya kembali”, suaranya terdengar begitu tulus namun tegar. “Kami siap untuk menjadi janda yang memberikan persembahan dari satu-satunya keping yang dimilikinya”, lanjutnya lagi.

Kuingat kembali cerita Sekolah Minggu dulu tentang persembahan seorang janda yang memberikan dua keping terakhir uang kepunyaannya sebagai persembahan kepada Tuhan. Hanya itulah yang dimilikinya, dan itu menjadi persembahan yang terbaik di mata Tuhan.

Sore tadi janin sudah bisa dikeluarkan dari rahim ibunya secara normal dibantu dengan proses induksi, dan langsung dimakamkan. Hati tetap merasa kehilangan, sekalipun belum kukenal seperti apa parasnya. Hati tetap bersyukur, mengingat ketulusan yang dimiliki oleh kakakku dan istrinya.

Nama Caithleen Gracia yang ini, juga memberikan suatu makna baru bagiku. Sebuah ketulusan dan ketegaran hati.

“Tuhan mau, Caithleen menemani Opa dan Oma-nya di Surga”, kata istriku.

Dan akupun tersenyum.

→ Tinggalkan KomentarKategori: ruangtengah

me(maksa)nulis

Mei 25, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Menulis bagi saya bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Menuangkan kegalauan pikiran yang begitu luas, ruwet, dan semrawut ke dalam sebuah tulisan yang seakan-akan dibatasi oleh kata dan huruf, bagi saya rasanya seperti ingin memidahkan Laut Jawa beserta isinya ke dalam baskom mandi Ben, anak saya. Hmmm, semoga perumpaan ini tidak terlalu berlebihan. Belum lagi untuk menambahkan emosi dalam tulisan saya bisa jadi hal yang paling sulit untuk dilakukan.

“Tulisan akan membuat kita hidup dalam keabadian”, kata seorang sahabat hidup saya. Saya paham betul bahwa kata-katanya itu memang benar.

“Untuk mempunyai keahlian, seorang dengan bakat apapun tetap perlu latihan”, Ia menambahkan lagi, dan sekali lagi saya sangat setuju dengannya.

Kata-kata itu mungkin akan hilang apabila tidak saya tuliskan kembali saat ini. Kata-kata itu juga sempat membuat otak saya sedikit bergoyang untuk kembali memaksa tubuh yang hampir kehilangan tenaga untuk menulis.

Saya bukan penulis, saya tidak pernah menulis untuk publikasi, bahkan tulisan untuk dibaca sendiripun saya buat lebih dari 7 tahun yang lalu. Untuk kembali menulis, rasanya seperti harus menyelam di dalam air lebih dari 1 menit tanpa alat bantu pernafasan. Dada terasa sesak, otak seperti mau meledak, telinga sedikit sakit, kaki seakan-akan ingin melompat jauh-jauh dari depan monitor, dan pantat terasa panas sekali. Yang terakhir ini memang sedikit berbeda dengan menyelam dalam air.

Keahlian memang berbanding lurus dengan latihan, dan hal ini pasti berlaku juga dalam hal menulis. Inilah yang akhirnya membuat saya meminjam filosofi suporter bola Surabaya dan mencoba memaksa diri untuk menulis.

Bagi Anda yang biasa membaca atau membuat tulisan, silahkan melakukan apresiasi terhadap tulisan-tulisan saya. Bahkan seandainya Anda tidak pernah membaca atau membuat tulisan sekalipun, nggih monggo tetap berapresiasi. “Sing temping muni ker, urusan tersinggung opo ora, urusan mburi (yang penting bersuara, urusan tersinggung atau tidak urusan belakangan)!”, kata teman saya yang (lagi-lagi) suporter bola.

Selamat menikmati !!

→ Tinggalkan KomentarKategori: ruangtengah