Sepintas memang bukan seperti nama orang Indonesia. Namun Caithleen Gracia yang ini memang asli orang Indonesia.
“Caithleen itu artinya suci, Gracia itu anugrah”, suara Ayah Caithleen dari ujung telepon geggamku tiga hari yang lalu.
Nada suaranya rendah, tidak seperti nada seorang Ayah yang baru saja memiliki anak pertama. Nada suara itu lebih menyerupai suara seorang yang sedang menahan kepedihan luar biasa.
Aku terdiam.
“Kami sudah siap”, sambungnya, “Kami siap kalau Tuhan mau memintanya kembali”. Suaranya terdengar begitu tulus namun tegar.
Aku masih diam.
“Puji Tuhan, biar menjadi persembahan syukur yang suci bagi Tuhan”, katanya lagi.
Aku masih ingat bagaimana rasanya kehilangan orang yang benar-benar kusayang. Akupun masih ingat betul perasaan pedih hampir kehilangan calon anakku, untung bagiku si janin masih bisa bertahan di rahim ibunya. Tapi kali ini, aku benar-benar terdiam, lemas.
Ayah Caithleen Gracia adalah kakak kandungku. Belum dua tahun, kami sama-sama berusaha saling menguatkan, ketika kedua orangtua kami berpulang. Beberapa bulan lalu, aku mendengar kabar gembira darinya, bahwa istrinya mengandung. “Semoga ini bisa jadi penghiburan baginya”, doaku dalam hati. Beberapa minggu lalu aku mendapat telepon bahwa kakak iparku masuk rumah sakit karena dalam rahimnya terdapat mioma, sejenis jaringan daging yang tumbuh di rahim dan menjadi parasit bagi janin. Tiga hari yang lalu, kami mendapat kabar bahwa janinnya sudah dipanggil pulang kepada Bapa di Surga.
“Namanya bagus sekali, cantik”, kataku pada kakak. Sesuai dengan doaku, anak perempuan.
“Ya… tapi Tuhan mau dia pulang”, jawabnya.
“Ya”, aku terdiam sebentar,”Ya, aku ngerti”, kuucap dengan pertanyaan dalam hatiku.
“Kami sudah siap. Kami siap kalau Tuhan mau memintanya kembali”, suaranya terdengar begitu tulus namun tegar. “Kami siap untuk menjadi janda yang memberikan persembahan dari satu-satunya keping yang dimilikinya”, lanjutnya lagi.
Kuingat kembali cerita Sekolah Minggu dulu tentang persembahan seorang janda yang memberikan dua keping terakhir uang kepunyaannya sebagai persembahan kepada Tuhan. Hanya itulah yang dimilikinya, dan itu menjadi persembahan yang terbaik di mata Tuhan.
Sore tadi janin sudah bisa dikeluarkan dari rahim ibunya secara normal dibantu dengan proses induksi, dan langsung dimakamkan. Hati tetap merasa kehilangan, sekalipun belum kukenal seperti apa parasnya. Hati tetap bersyukur, mengingat ketulusan yang dimiliki oleh kakakku dan istrinya.
Nama Caithleen Gracia yang ini, juga memberikan suatu makna baru bagiku. Sebuah ketulusan dan ketegaran hati.
“Tuhan mau, Caithleen menemani Opa dan Oma-nya di Surga”, kata istriku.
Dan akupun tersenyum.